Nge-backpack ke Hongkong &Macau…(1)

Ini untuk kesekian kalinya saya jalan nge-backpack karena kebetulan ada tiket murah. Penerbangan Mandala Air, dalam rangka promosi rute baru mereka ke Hongkong & Macau, memberikan (lebih tepatnya menjual…) tiket promosi ke HK dengan harga Rp 799.000. Perjalanan saya ini saya jalani pada bulan Juli 2010.

Saya membeli tiket Jakarta – Hongkong PP lewat internet. Harga lewat internet adalah harga yg paling murah, sesuai dgn tarif yg dipromosikan lewat surat kabar, yaitu Rp 799 ribu tadi. Sedangkan kalau membeli lewat kaunter resmi mereka akan dikenakan tambahan biasa sekitar Rp 100 ribu. Harga tersebut juga belum termasuk bagasi. Jadi kalau saya mau menitipkan tas  di bagasi pesawat, maka saya dikenakan biasya sekitar Rp 100 ribu lagi. Karena saya jalan sendiri, saya pikir ngga masalah lah membawa tas ke dalam kabin….

Akhirnya saya untuk memesan tiket dgn harga tersebut diatas. Oh iya, harga tersebut diatas adalah harga untuk sekali jalan. Jadi untuk pulang pergi saya mengeluarkan biaya kurang lebih Rp 1.600.000 an (plus pajak bandara di HK). Untuk tarif normal, setelah saya tanya-tanya ke biro-biro perjalanan, jatuhnya sekitar 3 -4 juta PP. Lumayan juga khan selisihnya….

Pada hari keberangkatan, kondisi badan saya kurang baik. Jadi saya terpaksa membawa tolak angin cair dan minyak kayu putih botol kecil (obat-obatan pribadi seperti ini sebenarnya bawaan wajib bagi pelancong-pelancong sendirian seperti saya ini…

Pesawat Mandala Air yg saya tumpangi rencananya berangkat dari bandara Soetta sekitar pukul 16.50 dgn lama perjalanan sekitar 5 jam. Jadi sampai di HK dijadwalkan sekitar pukul 22.00. oh ya, terdapat perbedaan waktu 1 jam antara HK dan Jakarta. Jadi kalau di Jakarta pukul 22.00, di HK sudah pukul 23.00…. lumayan malam sebenarnya, tapi jangan takut, di HK jam segitu masih cukup ramai. Kendaraan umum pun masih banyak yg beroperasi. Bis, MTR dan taksi masih banyak yg beroperasi.

Penerbangan 5 jam ini merupakan penerbangan terlama buat saya. Tapi buat saya ngga masalah, kebetulan malah, karena setelah minum tolak angin cair, mata jadi ngantuk… dan saya bisa tidur cukup panjang selama perjalanan. Biasanya kalau perjalanan 1- 2 jam, saya ngga bisa tidur. Apalagi ini penerbangan malam, jadi ya di atas pun cuma gelap gulita yg ada….

Di perjalanan saya bertemu beberapa orang  yg kemudian jadi teman ngobrol. Yg pertama Ade, dia ke HK nengokin pacarnya, Adelina,  yg tinggal di China, tapi janjian ketemuan di HK. Terus seorang lagi, pedagang asesories hp di Pluit yg mau cari barang ke China. Terus 2 orang lagi yg bekerja di perusahaan tekstil. Kebetulan keempat orang ini ternyata akan menginap di tempat yg sama, yaitu Chung King Mansion, di Tsim Tsa Shui, Nathan Road.

Nathan Road adalah nama jalan yang sangat kesohor di kalangan turis yg datang ke HK. Di kawasan ini banyak sekali penginapan-penginapan, dari kelas backpacker hingga kelas hotel bintang lima. Kawasan ini sangat…sangat… padat…!!  Bukan main, jalan pun kadang-kadang agak susah, karena sering bertabrakan dengan orang lain. Kabarnya kawasan ini adalah kawasan yg paling padat sedunia jika dihitung orang per kilo meternya. Konon pula, Orchard Road di Singapura, yg merupakan tempat belanja kesohor para turis, konsepnya meniru penataan lingkungan di Nathan Road ini…. Cuma menurut saya lebih nikmat di Orchar Road, karena suasananya masih sangat teduh imbas dari banyaknya pohon-pohon besar yg dibiarkan hidup.

Kembali ke cerita perjalanan saya. Saya berencana tinggal di HK selama 5 hari 4 malam. Saya sudah memesan tempat menginap via internet di kawasan Causeway Bay, pada hari kedua saya di HK. Sedangkan malam pertama saya tiba, saya berencana untuk tidur di Bandara International Hongkong…. Saya pikir, sayang uang buat nginap. Toh, paling saya cuma tidur aja. Mending nginap di Bandara aja, pasti banyak juga para backpacker yg nginap di sana…

Tapi ternyata saudara-saudara… karena bertemu dengan orang-orang diatas tadi, saya jadi terprovokasi untuk ikut mereka nginap di Tsim Tsa Shui, tepatnya di Chung King Mansion seperti mereka… ya sudah, rupanya bujukan mereka lebih kuat, ya sudah, ikutlah saya dengan mereka ke tempat mereka nginap….dasar….!

Sebelum saya, tepatnya kami,  meneruskan perjalanan dari bandara ke tempat kita menginap, saya menyempatkan diri membeli Octopus Card. Kartu ini bisa digunakan untuk naik MTR, bis, taksi, dan juga belanja di 7 Elevan. Untuk para pelancong, kartu ini sangat membantu karena tidak perlu repot-repot menukarkan koin bila mau naik angkutan di HK. Saya membeli kartu yg seharga HK$150. Nilai nominal sebenarnya adalah HK$100, sedangkan 50-nya untuk deposit dan bisa di refund jika sudah tidak memerlukan kartu tersebut, atau bila mau meninggalkan HK. Tetapi, Octopus Card bisa digunakan hingga tahunan, alias tidak expired…. kalau tidak salah hingga 3 tahun. Bila nominalnya berkurang karena sering kita pakai, kita pun dengan mudah bisa mengisi ulang kartu kita lewat mesin yg banyak terdapat di stasiun-stasiun MTR di HK.

Sesampainya di penginapan, ternyata setelah tawar menawar kamar, dengan dibantu oleh ceweknya Ade, saya memperoleh kamar dengan harga HK$120 yg kalau dirupiahkan sekitar Rp 140 ribuan… cukup murah menurut saya…

Sebelum tidur, saya sempatkan dulu jalan-jalan ke Avenue Star yg terletak tidak terlalu jauh dari tempat saya menginap. Tinggal nyebrang jalan saja. Avenue Star ialah suatu tempat di tepi pantai yg lantai-lantainya dihiasi oleh tanda tangan dan cetakan tangan bintang-bintang film HK. Tempat ini juga menjadi tempat berkumpulnya para warga HK maupun turis-turis bila ada perayaan-perayaan, seperti tahun baru, imlek-an, dan lain-lain. Tempatnya sangat enak untuk duduk-duduk sekedar melepas lelah sambil menyaksikan deretan pencakar langit yang terdapat di  Hongkong Island….

Thailand, Malaysia, Singapura…(bag.2)

Perjalanan dari Johor ke KL memakan waktu kurang lebih 4 jam-an. Dengan pemandangan kiri kanan perkebunan karet dan sawit, sepertinya agak membosankan. Rute dari Johor ke KL seluruhnya melewati jalan tol yg lebar. Ini enaknya… dan ternyata, perjalanan hingga Thailand melewati jalan tol yg lebar ini… sedapnyeee….

Sampai terminal Puduraya kurang lebih jam 7 malam. Saya lalu mengirim sms ke teman saya, yg orang Malaysia, Misai (Wan Fakhrul ), mengabarkan bahwa saya sudah sampai Puduraya. Kebetulan Misai berkantor tidak terlalu jauh dari Puduraya. Dia balik sms bahwa suruh tunggu sekitar 1 jam-an….

Misai ajak saya makan di… apa ya, lupa saya namanya. Sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul…ngga terasa waktu sudah menunjukan jam 10.30 malam. Sambil muter-muter sekitar Puduraya cari tempat nginap. Di sekitar terminal Puduraya banyak terdapat hostel-hostel backpacker-an yg murah meriah… kisarannya kalau dirupiahkan sekitar 100 – 300 ribu-an per malam. Tetapi sebelum saya memutuskan untuk nginap di dekat-dekat Puduraya, iseng-iseng saya coba tanya ke loket-loket yg ada di sana, apakah masih ada bis yg menuju Thailand… Woillaa…. ternyata masih ada bis terakhir yg berangkat, sekitar pukul 11.30 an. Tanpa pikir panjang, saya putuskan untuk berangkat langsung ke Thailand malam itu juga… lumayan, daripada buat nginep di hostel, mending langsung naik bis, langsung tidur di bis, tho’ sama aja, merem-merem juga…he..he…

Sampai perbatasan Malaysia – Thailand hari sudah pagi. Sepertinya supir sengaja memperlambat tempo dengan beristirahat cukup lama di..ntah namanya… katanya sambil menunggu pintu perbatasan Thailand di buka. Oh iya, di Malaysia nama daerah perbatasannya Bukit Kayu Hitam, Kedah. Sedangkan di Thailand namanya Sadao, Songkhla.

Akhirnya saya sampai di tujuan, yaitu kota Hat yai ( Hadyai). Bis yg saya tumpangi berhenti terakhir di tempat semacam biro/agen perjalanan. Nah, di Hatyai inilah saya memutuskan menginap barang semalam. Saya tidak meneruskan jauh ke dalam negara Thailand, karena waktunya pasti tidak cukup untuk saya balik lagi ke Singapura. Tarip hotel di Hatyai menurut saya lumayan murah. Saya menginap di Pink Hotel, dengan tarif 600 Bath. Bila di-rupiahkan sekitar 180 ribu rupiah. Kamar hotel cukup luas dengan AC+TV+kamar mandi shower air panas….. cukup murah khan….

Hotel Pink Lady

Hatyai

Hatyai juga

Pasar di Hatyai

Di Hatyai, waktu yg saya alokasikan adalah 2 hari 1 malam. Tiba pagi, balik lagi ke KL malam keesokan harinya. Waktu 2 hari ini saya kira cukup untuk muter-muter mengekspor hatyai. Naik tuk tuk, dan jalan kaki. Harga-harga makanan pun saya kira cukup bersahabat dengan kantong seorang backpacker…

Oh iya, pada saat mau pulang, saya agak mendapat masalah, yg menurut saya agak gawat. Ternyata pada saat saya menyerahkan tiket bis ke petugas yg kemarin saya beli, tanggalnya telah lewat sehari…! Ternyata tiket yg tertera adalah tanggal waktu saya datang. Padahal waktu saya beli, seingat saya  sudah saya bilang untuk besok pukul 7 malam. Di sini saya berdebat cukup lama dan alot dengan mbak-mbak yg melayani saya kemarin. Akhirnya karena tidak ada jalan tengah alias saya dan mbaknya sama-sama keukeuh, si mbak memanggil atasannya…

Sang atasan pun akhirnya ambil keputusan, ” Oke… ini yg pertama dan terakhir. Bila lain kali kamu seperti ini lagi, tidak akan saya tolerir….! yang akan kami jadikan patokan adalah yg tertera di tiket..!”. Begitu kira-kira kata-kata dari sang supervisor, yg tentunya dalam bahasa Inggris. Alhamdulilah, ngga jadi keluar duit buat beli tiket lagi… Sebenarnya kalau dipikir, itu juga salah saya, karena pada saat menerima tiket tidak melihat tanggal yg tertera di tiket…. untung aja…..

Mau balik ke KL setelah menikmati Hatyai

Nih dia yg bawa balik ke KL

Akhirnya saya bisa kembali ke KL malam itu juga, dengan bis yg kali ini berjenis bis tingkat. Malam itu saya bisa berhemat ongkos penginapan 1 malam lagi karena bermalam di dalam bis yg  melaju dengan cukup kencang. Ini ditunjang dengan kondisi jalan yg lumayan mulus. Akhirnya bis tiba di Puduraya sekitar pukul 3 pagi… Cukup banyak orang yg  berkeliaran di terminal itu pada waktu itu. Herannya, saya tidak merasakan takut atau apa gitu ditempat yg asing dan sendirian pula itu. Oh ya, kalau pergi sendiri, usahakan jangan sampai terlambat makan. Karena sangat bahaya kalo badan kita sampai sakit. Karena itu pula saya memutuskan mengisi perut dengan nasi lemak dan segelas teh tarik di Restauran Annuja, persis di seberang terminal Puduraya. Untung di restauran itu ada pengamen yg masih asyik bernyanyi, sehingga dinihari itu saya ngga kesepian….. lumayan lagi…. Pengamen itu menyanyikan beberapa lagu DEWA, I’m Yours-nya Jason Mraz, dan beberapa lagu asing lagi… saya ikut memberikan tip beberapa ringgit Malaysia.

Setelah matahari terbit, barulah saya beranjak masuk ke terminal Puduraya. Kali ini tujuan saya adalah bersih-bersih badan serta menitipkan koper ke tempat penitipan koper yg ada di sana. Karena bis yg akan membawa saya dari KL ke Singapura baru akan berangkat malam hari, tepatnya jam 10 malam, maka saya masih ada waktu seharian penuh untuk jalan-jalan di KL ini….

Seharian di KL lumayan padat aktivitas saya. Pagi-pagi sekali, setelah menitipkan koper ke tempat penitipan yg bertarif RM3 sehari, saya bergegas ke kawasan menara Petronas. Saya berniat naik ke menara itu. Ini kali kedua saya naik ke menara itu. Dengan menaiki LRT, saya sampai ke bawah menara dan langsung antri tiket. Antrian sudah cukup panjang, padahal baru jam 7 pagi. Saya memilih naik ke menara pada jam 9. Teratur sekali antrian yg ada. Ngga ada tuh yg namanya dorong-dorongan, rebutan… semua sudah saling mengerti…

Di menara Petronas, sama dua bocah cilik

Petrosains, tempat beli oleh-oleh buat emil & oki

Monorail yg nemenin keliling KL seharian

Setelah turun dari menara, saya sempatkan diri membeli oleh-oleh untuk kedua anak saya, Oki dan Emil, di Petrosains, Suria KLCC. Lalu saya mengontak teman saya lagi, kali ini Lan. Dia adalah kawan pertama saya di Malaysia ini. Kita janjian bertemu di KL Sentral, dulu tempat kita pernah ketemuan juga. Karena sudah mepet waktunya, saya langsung jalan ke KL Sentral dengan menaiki monorail. Akhirnya saya bisa bertemu Lan, kawan lama saya. Lan mengajak makan siang di McDonald KL Sentral. Sambil kita saling menceritakan keluarga kita masing-masing. Dia juga bercerita bahwa akan ke Vietnam untuk menonton pertandingan sepak bola antara Selangor FC melawan salah satu kesebelasan di Vietnam dalam rangka AFC Cup.

Setelah berbincang-bincang cukup lama, Lan harus kembali ke kantornya yg lumayan jauh dari KL Sentral. Saya pun berpamitan kepadanya, dan menitip salam untuk keluarganya. Saya membelikan kaos Thailand untuk Lan dan Misai. Saya melanjutkan berkeliling KL… Kali ini saya ke Pasar Seni yg tidak jauh dari Puduraya. Sebenarnya, di Pasar Seni saya berniat hanya sebentar saja, tapi pada saat saya mau meninggalkan tempat itu, hujan turun dengan derasnya….. Ya udah, terpaksa deh muter-muter di situ aja… untuk lumayan banyak barang-barang yg bisa dilihat di situ.

Akhirnya menjelang maghrib saya baru bisa keluar dari Pasar Seni. Saya langsung ke Puduraya, makan malam di Restauran Annuja lagi… Karena hari sudah gelap, saya ngga mau jauh-jauh dari Puduraya. Saya isi waktu sambil ngobrol-ngobrol dengan penjaga penitipan koper. Akhirnya sekitar pukul 10 malam saya harus meninggalkan Kuala Lumpur menuju Singapura. Sedih juga harus meninggalkan KL…

Bis yg saya tumpangi hanya terisi setengah saja. Berjalan menembus kegelapan malam Malaysia. Menjelang Singapura, mulai terlihat lampu-lampu kota yg berpendar-pendar, sangat menarik…. Saya tiba di Singapura pukul 4 pagi. Lalu untuk menunggu MRT yg mulai beroperasi pukul 6 pagi, saya bersih-bersih di pom bensin di kawasan Golden Mile Complex. Karena pesawat yg saya tumpangi dari Singapura ke Jakarta berangkat pukul 10, masih ada beberapa jam, saya memutuskan untuk naik MRT ke Orchard Road. Senang juga kembali lagi ke Orchard Road yg bersih dan asri itu….

Akhirnya menjelang pukul 8.30 pagi saya memutuskan untuk berangkat ke bandara Changi. Nyaman sekali bila ke bandara bisa menetapkan waktu dengan pasti seperti itu. Akhirnya pesawat Sriwijaya Air terbang, membawa saya, dari perjalanan ke 3 negara Thailan, Malaysia dan Singapura ke kota Jakarta tercinta.

Thailand, Malaysia, Singapura…(bag.1)

Kali ini saya mau menceritakan pengalaman saya jalan sendirian ke Singapura, Malaysia dan Thailand. Keinginan saya untuk jalan kali ini berawal dari adanya iklan di surat kabar dari maskapai Sriwijaya Air, yg baru membuka rute Jakarta – Singapura.Di iklan disebutkan, untuk promosi pembukaan rute baru tersebut, selama bulan Maret 2010 mereka memasang tarif Jakarta-Singapura PP dengan harga US$45, ini kalo di-rupiah-kan sih kurang lebih Rp 450.000. Wuihhh… murah banget…!

Besoknya langsung aja saya ke Sriwijaya Air yg di Jalan Barito, Blok M. Setelah saya bayar menggunakan kartu kredit, ternyata yg di-kreditkan dari kartu saya hanya Rp 420.000 saja (karena US$1 hanya sekitar 9 ribu sekian…). Coba itu, lumayan murah khan…? kayaknya malah lebih mahal naik kereta Argo yang ke Yogyakarta deh, yg sudah sekitar 300 ribuan….

Pada hari keberangkatan, pagi-pagi saya dari rumah naik motor, anter Oki sekolah, anter istri ke kantor dan langsung ke kantor saya yg berada di Palmerah buat nitip motor. Lalu dari Palmerah, karena kayaknya waktunya sudah agak mepet, saya terpaksa naik taksi…

Sampai bandara Soetta, terminal 2, saya langsung chek in ke kaunter Sriwijaya Air, terus urus bebas fiskal pakai kartu NPWP…Oh iya, buat pemegang NPWP, bisa menanggung bebas fiskal untuk istri, anak, orang tua dan mertua (top banget deh kantor pajak…!) . Setelah itu langsung masuk antrian imigrasi yang lumayan panjang…

Setelah menunggu sekitar 45 menit, penumpang dipersilahkan naik ke pesawat. Dalam perjalanan di atas pesawat, ada hal yg agak di luar dugaan saya. Yaitu ternyata penumpang dapat jatah makan besar dan minuman gratis… ya sudah, dengan sangat ‘terpaksa’ saya gunakan azas mumpung… mumpung gratis, hajar…! itu jatah makan ngga tersisa sama sekali. Malah saya minta tambah jatah minum…he..he… Lumayan, makan siang gratis… backpacker-an gitu lho….

Setelah mendarat di Changi, saya langsung turun ke MRT Station, beli ticket sekali jalan dgn tujuan stasiun Kranji. Dari Kranji, kita keluar stasiun, terus naik bis yg bertujuan ke Terminal bis Larkin (Johor, Malaysia). Lalu lanjut ke terminal Puduraya, Kuala Lumpur. Sebenarnya saya bisa langsung naik bis dari Singapura langsung ke Puduraya, Malaysia. Tapi harganya jauh lebih mahal, bisa 3 kali lipat, walau dengan bis yg sama…. Mendingan selisih harga tadi saya pakai buat beli makan siang… Naik turun kendaraan umum seperti yg saya lakukan tidak merepotkan koq, karena rute dan bis-nya lumayan banyak, hampir setiap 5 menit ada bis dari Stasiun Kranji, Singapura yang nyebrang ke Terminal Larkin, Johor, Malaysia.

Singapura, dari MRT menuju stasiun Kranji

 

Bus  dari KL ke Hatyai, Thailand

Oh iya, hampir lupa. Pada saat naik bis dari Singapura ke Terminal Larkin, Johor, sewaktu di imigrasi, kita harus bawa turun barang bawaan kita, karena bis yg kita naiki tadi akan langsung jalan ke Larkin, sementara kita di imigrasi (baik imigrasi Singapura maupun Malaysia). Yang penting, tiket bisnya harus kita simpan, karena sewaktu-waktu bisa ditanyakan oleh sopir bis-nya. Yang penting kita naik dengan bis yang satu perusahaan…

Lalu sampai terminal Larkin, Johor, kurang lebih pukul 3 sore. Terminalnya lumayan ramai. Menurut saya bis-bis yg ada bagus-bagus dengan tempat duduk 1-2. Oh iya, ancer-ancer harga tiket bis, dari Larkin ke Puduraya, KL kurang lebih 25 – 35 RM (Ringgit Malaysia). Di sini juga banyak yg nawar-nawarin bis, persis kayak di terminal Lebak Bulus. Nah, di sini kalo kita ngga beli tiket di loket, kita bisa tawar menawar dgn orang yg nawa-nawarin bis tadi. Ini yg saya lakukan… setelah tawar menawar, saya dapet harga RM25 ke Puduraya, KL… lumayan khan…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.