Ibu (Iwan Fals)

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

 

          Seperti udara kasih yang engkau berikan

          Tak mampu ku membalas ibu…ibu…

Ingin ku dekat dan menangis di pangkuanmu

Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu Doa-doa baluri sekujur tubuh

Dengan apa membalas, ibu…ibu…

Emil 3 Tahun

          Pagi itu mata saya masih sangat berat untuk melek, setelah semalam baru pulang jam 02.00 dinihari. Tiba-tiba Emil setengah teriak ke saya yg masih ngantuk, ” Pak, aku dapat hadiah handphone dari ibu nih..”. Setengah sadar saya balik tanya, “hadiah untuk apa Mil….?”. Emil cepat menjawab ” Hari ini khan aku ulang tahun pak…!”.

          Ya’ ampun… saya lupa, hari itu Emil genap berumur 3 tahun. Tepat 16 Desember 2005 ia dilahirkan di RSIB Mutiara Bunda. Koq’ bisa lupa sih… Akhirnya saya paksakan untuk bangun, dan memberi ucapan selamat ke Emil, ” Selamat ulang tahun ya Mil….”. Terus dia langsung gelendotin saya…..

hut

SMP 56 Melawai

kartu

Kartu Pelajar SMP 56   

       Hari-hari ini saya mengalami  peristiwa yg tak terlupakan dalam hidup saya. Saya flashback ke saat-saat sekolah di SMP 56 Melawai dulu. Segala memori saya tentang masa-masa  di SMP 56 dulu muncul lagi dengan jelasnya. Wajah-wajah teman sekolah yang sempat hilang dari memori, muncul semua. Yuniar (Yuyun Soetikno), Anom Bramanjati, Mohammad Viva, Junaedy (Juned), Intan Santoso, Shanti Siva, Raya Ilyas, Chippy Pratomo, Ai Roesmantoro, Luhira Chandra, Erika Handoyo, Ricardo, Osep Saefulloh, Abror, Titut Lestari, Tiara, Audy, Fredina, dan lain-lain.

reuni1

Foto bersama reuni SMP 56 Melawai

          Semua bermula dari Facebook. Saya berniat searching teman-teman saya waktu di SD Senayan 01 dulu. Baru ketemu satu nama, Fajar Tri Hendratmo, yang sekarang sudah jadi fotografer. Terus terlintas tulis nama Anom Bramanjati, ngga tau kenapa koq muncul nama itu di pikiran. Abrakadabra…!! eh, ternyata muncullah  foto si Anom. Ternyata di facebooknya ada album “Reunion SMP 56 Angkatan 90″.

          Terpampanglah teman-teman dulu di SMP 56 Melawai. Nama-nama yang tadi disebutin, keluar semua. Foto-foto acara reuni, dan acara-acara sebelumnya, terpampang semuanya. Langsunglah saya kontak Anom lewat FB-nya, yg ternyata langsung menjawab. Ngobrollah kita panjang lebar. Lalu Anom kasih nama Yuyun, yang ternyata Yuniar, beserta YM-nya. Tambah panjang lagi ceritanya dari Yuniar tentang reuni-an tadi. Semoga reunian berikut saya bisa ikutan. Tapi, terus terang, saya sudah sangat…sangat senang bisa melihat teman-teman di foto-foto yang diupload di fb teman-teman. Sekali lagi, Terima kasih banyak buat Anom Bramanjati dan Yuniar Soetikno..!!

reuni2

Panitia reuni foto bersama. Terima kasih buat  Anom (paling depan, baju hitam) dan Yuniar (Belakang, baju putih, tanpa jilbab)

Petronas Twin Tower

          Hari berikutnya, kita juga jalan ke Genting, kawasan puncaknya Kuala Lumpur. Di sana kita main, macam-macam deh. Sayangnya pas jam 2 sore-an hujan turun. Terpaksa deh kita balik ke hotel. Terus juga sempat ketemuan sama anggota milis Selangor FC. Kebetulan salah seorang anggota milis, Rizuan, menikah di Selangor. Saya dijemput oleh salah seorang sesepuh, milis Selangor FC, Lan.

rizuan-nikah

Pernikahan anggota Selangor FC, Rizuan, di Selangor.

          Lain hari saya sempetin pula berkunjung ke menara Kembar Petronas. Antrenya, gile…! dari jam 6 pagi udah panjang banget..!! Ya, udah, bela-belain deh antri juga. Kita dapat naik menara jam 9.. lumayanlah bisa ngerasain gimana Zeta Jones di film Entrapment…

petronas1

          Akhirnya saatnya kita balik ke Jakarta… Saya kontak lagi taksi yg pertama antar kita ke Radius hotel. Pesawat delay sekitar 1 jam. Saya pikir, ngga papa deh, berarti dikasih waktu untuk ngeliat-liat bandara yg bagus ini. Setelah waktunya, kita naik ke pesawat, hari sudah gelap. Terbanglah kita kembali ke Jakarta, kembali ketemu macet…

Monorel

          Pagi pertama di KL, Oki sudah merengek-rengek minta naik Kereta Monorel. Sehabis sarapan di restauran hotel, kita putusin untuk muter-muter naik monorel. Kalau perlu dari ujung ke ujung. Untuk menuntaskan kemauan Oki.

bukit

Di depan Stesen Bukit Bintang

          Dari hotel, kita jalan kaki ke stasiun monorel terdekat, yaitu Stasiun Bukit Bintang. Beli tiket ke arah Titi Wangsa. Sambil menunggu kereta datang, kita bertemu dengan seorang ibu bule, dari Inggris, yang ingin menengok cucunya di Selandia Baru, mampir dulu di Malaysia, selama 2 hari. Kita jalan bareng naik monorel ke arah Titi Wangsa. Saya sama Ely bisik-bisikan ngomongin si Oki yang nggak mau duduk di bangku yang kosong. Dia asyik berdiri aja di samping jendela, persis di belakang operator monorel.

mono2

Oki berdiri di deket jendela terus nih…

          Dari Titiwangsa, turun sebentar ke jalan raya. terus kita jalan-jalan sambil beli minuman. Dari Titiwangsa, kita naik monorel lagi ke KL Central. Ini berarti dari ujung ke ujung… dan kita melewati stasiun Bukit Bintang. Sampai di KL Central ( Pusatnya tranportasi di KL ), saya menghubungi teman dari milis Selangor FC, Lan. Setelah ngobrol-ngobrol sekitar 5 menit-an, kita janjian bertemu esok harinya. Rencananya dia, bersama keluarganya, akan menjemput kita di Hotel Radius.

lan21

Bersama anak-anak Lan, di Aquaria

lan1

Makan siang di dekat-dekat Aquaria bersama Lan sekeluarga.

Radius Hotel

          Sampailah kita di Hotel Radius, yang terletak tidak jauh dari kawasan Bukit Bintang. Sekitar 2 menit jalan dari Bukit Bintang. Hotel ini lumayan besar, kalo nggak salah ada 18 lantai, kolam renang, restauran, dan warnet, Saya sempat mencoba sekali ke warnet. Aksesnya lumayan cepat.

radius1

          Lobi hotel sudah bernuansa natal. Room boy-nya pun mengenakan topi santa claus. Kami memperoleh kamar di lantai 13. Sebenarnya kami ingin view dari kamar kami yg menghadap ke Menara Petronas. Nasib,  ternyata kamar sudah habis. Tetapi, saudara-saudara…. ternyata kamar yg kita dapat, justru menghadap ke rel monorel, alat transportasi utama di tengah kota Kuala Lumpur. Wah, kalau begini caranya… Oki bisa-bisa ngga tidur nih… pikir saya. Oki sangat suka kereta api. Mainan-nya di rumah hampir 90% adalah kereta-kereta-an.

          Setelah memasukan pakaian ke lemari, kami makan siang di kamar. Lalu, mungkin karena lelah, Emil dan Ely tertidur. Sedangkan Oki, lagi berdiri aja di jendela, yg kebetulan lumayan besar, untuk melihat monorel yang lewat…  gile… monorel khan lewat sekitar 10 menit-an sekali… Oki tetap dengan antengnya ngeliat itu monorel yg lalu lalang….

malay2

          Akhirnya saya ajak saja Oki jalan ke luar hotel. Jalan-jalan ke jalan Alor, minum es kelapa. Enak banget jalan kaki sore itu, karena cuaca habis hujan gerimis, tidak panas… Balik lagi ke hotel, sekitar 30 menit-an. Lalu kita main ke kolam renang, yg kalau nggak salah ada di lantai 5 dan diluar ruang. Dari kolam renang kita bisa melihat Menara KL.. bentuknya mirip seperti menara TVRI di jalan Graha Pemuda, Senayan.

          Terus saya dan Oki kembali ke kamar. Rupanya Emil dan Ely sudah bangun. Lalu kita pergi  makan di Jalan Alor. Tidak terlalu jauh dari Radius. Banyak sekali pilihan makanan di Alor, dengan harga yang beragam pula.

alor

Oki and The Gank di Jalan Alor, Bukit Bintang.

Panorama KL

          Pada hari keberangkatan, saya bangun jam 4 pagi, karena dari Cengkareng pesawat berangkat pukul 8 pagi. Setelah mandi dan beberes, bangunin Oki dan Emil, yg kemudian dimandi’in air hangat sama Ely, taksi pun datang kira kira jam 4.30 an.

          Sampai Bandara, sudah cukup ramai. Kami langsung ke kaunter boarding pass. Masukin bagasi, terus bayar fiskal. Saya hanya membayar fiskal untuk 2 orang, karena Oki dan Emil belum 12 tahun, jadi masih gratis fiskal… lumayan… 2 jeti gitu lho..! Lalu, karena semua sudah beres, Ely mengeluarkan McDonald yang tadi kita beli di Meruya sewaktu berangkat. Oki dan Emil kayaknya sudah kelaparan berat, karena mereka langsung menyantap suapan Ely.

          Selesai sarapan, kami mulai masuk antrean imigrasi. Ada 5 antrean, dan semuanya cukup panjang. Kami dipanggil petugas imigrasi dan diminta langsung segera ke depan antrean. Mungkin karena membawa 2 anak kecil.

          Tidak lama menunggu di ruang tunggu, terdengar pengumuman penumpang dipersilahkan untuk menaiki pesawat. Lagi-lagi, karena membawa anak kecil, kita dipersilahkan naik lebih dahulu. Lalu para lansia pun diminta naik duluan. Saat memasuki pesawat, Oki keliatan agak clingak-clinguk. Mungkin dalam hati dia ngomong “ooo… pesawat itu kayak gini ya…”   karena ini kali pertama Oki dan Emil naik pesawat…

          Sengaja saya suruh Oki duduk dekat jendela, biar dia bisa menikmati pemandangan di atas awan… norak nggak sih…ha..ha… biar deh dibilang norak, yang penting Oki pasti sangat menikmati pengalamannya naik pesawat pertama kalinya. Oki bercanda sama Emil sambil nunjuk ke awan putih, “Mil..Mil…, ada Tikus Malaikat tuh….!”. Emil pun tergoda untuk melongok ke luar jendela.  Tikus Malaikat adalah cerita anak-anak dalam VCD yang bercerita ttg tikus yang suka menolong.  Saya ajak juga dia ke toilet di pesawat. Senang rasanya ngeliat raut mukanya yang kelihatan senyam-senyum terus… Apalagi sewaktu pramugrasi menawarkan milo, dia langsung tunjuk aja… dasar anak kecil…

mendarat

Pesawat saat mendarat di Bandara LCCT, Kuala Lumpur

          Hampir 2 jam perjalanan, akhirnya sampailah kita di Malaysia, tepatnya di Bandara LCCT, Kuala Lumpur. Di imigrasi kita ditanyai ada urusan apa di Malaysia, saya jawab hanya untuk berlibur saja. Lalu paspor kita diceplok…eh, distempel deng… Terus kita langsung ke tempat pengambilan bagasi. Kurang lebih 10 menit-an, akhirnya 2 buah tas besar sudah ditangan kita. Dari situ kita langsung ke tempat pemesanan taksi. Sebenarnya di sana ada bis besar yang menuju KL Central ( Blok M-nya Kuala Lumpur), dengan harga hanya RM 9 saja. Satu Ringgit Malaysia kalau dirupiahkan sekitar Rp 2.500. Tapi karena bawaan lumayan berat, ditambah belum tahu kondisi lingkungan di Kuala Lumpur, kita memilih naik taksi saja, dan minta langsung diantar ke Radius Hotel. Eh…, ternyata sopir taksi yang kita naiki itu asalnya dari Bantul, Yogyakarta. Dia sudah 10 tahun-an di Malaysia. Dari ceritanya, dia terlihat sangat kerasan di Malaysia.

Next Destination… Kuala Lumpur

          Setelah berunding bersama Ely sekitar 1 bulan, Tahun 2007, tepatnya sekitar November (ngga ngerti, kenapa selalu pas ulang tahun saya…) saya merencanakan “Jalan…” lagi. Kali ini tujuan saya bersama Ely, Oki dan Emil adalah Kuala Lumpur (KL), Malaysia. Sekaligus, saya mau menghadiri pernikahan salah seorang teman  dari milis Selangor FC, yaitu Rizuan, serta menemui Shahlan ( LAN) yg juga anggota milis SFC.

          Saya membeli tiket pesawat   di jalan Panglima Polim, kebetulan dekat kantor Ely. Tiket saya beli 3 plus 1 anak (karena Emil belum 2 tahun). Setelah itu, karena kebetulan lagi, dekat-dekat situ ada Panorama Tours, saya sekalian mencari tempat penginapan. Setelah mendapat beberapa alternatif hotel, saya memutuskan memilih hotel Radius yg terletak di Bukit Bintang.

Main Badminton

          Hp saya berbunyi, ada sms masuk. Dari Michael, tetangga satu RT di rumah di Mahkota Simprug, Ciledug. Ia menulis “Hari Minggu jam 17 sore pertandingan badminton lwn dedi cs. hrp kasih kabar…”.

          Main badminton menjadi hobi baru saya nih… Awalnya diajak sama Waris, tetangga satu RT juga, untuk main badminton di Pondok Lestari  Ciledug. Eh, tau-tau jadi keasyikan… sampai sekarang deh, udah jalan 4 tahunan nih…

          Sekarang mainnya juga lebih intens alias sering. Gara-gara, Waris, ada uang lebih katanya, membangun lapangan badminton di deket rumah. Masih di RT yg sama, tepatnya dibelakang rumahnya persis. Dia membeli kapling kosong, menghadap jalan utama perumahan Mahkota Simprug, Ciledug. Lalu dibangunlah lapangan badminton, lengkap dengan kamar mandi, tertutup pula… jadilah sebuah Hall Badminton… Luar biasa, kalau sudah bicara hobi, apapun di beli…

          Balik lagi ke rencana main badminton hari Minggu besok, biasanya jadwal kita main adalah Sabtu malam. Tapi menurut Michael, pertandingan diundur, karena pemain-pemain andalan kita kebetulan banyak yang tidak bisa hadir kalau Sabtu malam… Jadilah rencana diubah. Pemain-pemain andalan tempat kita main badminton adalah Gito, Rofi, Junaidi, Fitri, Ali, Michael, Irawan, Heri, Agus dan Yadi.

          Sambil berangkat kerja, saya juga menyempatkan diri mengganti senar raket saya di toko India di depan Tomang Tol Ciledug. Senar saya ganti karena rasanya daya lentingnya sudah ‘mati’. Mesti agak sedikit ‘ngotot’ untuk memukul kencang. Di toko itu juga menjual sepatu badminton, yang akhirnya saya beli sebuah. Kebetulan sepatu saya memang sudah agak rusak dan sudah saya rencanakan untuk membelinya.

SDN Senayan 01 Pagi Bag. 1

senayan1

SDN Senayan 01 Pagi angkatan 1986. Kalau ngga salah, waktu piknik ke Ragunan

          Kalau lagi melintas di jalan Senopati mau ke arah jalan Gatot Subroto, saya selalu melewati jalan Tulodong Bawah, Kelurahan Senayan. Lalu lewat jalan Widya Chandra, tembus deh tuh, ke jalan Gatot Subroto.

          Nah, di kawasan Tulodong Bawah inilah saya menghabiskan masa kecil saya yang sangat indah ( buat saya tentunya…).Di Tulodong Bawah inilah saya dilahirkan dan tumbuh besar. Masih jelas dalam ingatan saya saat-saat saya bersekolah dulu. Saya sekolah di SDN Senayan 01 Pagi dari tahun 1980 – 1986. Saat inipun sekolah itu masih tegak berdiri, tetapi sekarang ditempati oleh sebuah akademi pariwisata… apa ya, lupa saya namanya. Saya tahu karena beberapa waktu lalu saya sempat mampir di SD saya itu bersama Ely, Oki dan Emil. Dan menyempatkan diri numpang buang air kecil di kamar mandinya. Saya sempat takjub, karena nggak nyangka sekolah saya dulu, masih tegak berdiri….! Hanya ada sedikit perbaikan di depannya saja.

          Guru-guru pun saya masih ingat semua. Kelas 1 saya diajar oleh Bu Karni, kelas 2 Bu Atun, Kelas 3 Pak Sutrisno, Kelas 4 hingga 6 oleh Bu Mulyasih….. ( Salam hormat yang setinggi-tingginya kepada guru-guru saya tersebut…). Terus terang, pada saat saya menulis nama guru-guru saya, saya agak merinding… nggak ngerti kenapa…

          Terus, temen-temen pun jelas saya masih inget… Sujarwoko, M. Safrudin, Pipin Arifin, Babay Ananda Saputra, Budut Imam Sudjono, Ari Dwi Kundarto, Yunani, Yanuar, Susi Purwanti, Tri Ningsih, Tri Haryanti, Dwi Retno Astuti, Ari Palupi, Hesty, Dedy Effendi, Rudy Effendi, Susana Effendi, Mulyani, Sutisna, Wawan, Heri Prio Laksono, Purwanto, Sarwonto, Rini Fany Edy, Sigit Bowo Prasetyo, Anton, Fajar Rivai, Fajar Tri Hendratmo, Yudo, Firmansyah…eee… siapa lagi ya… gila banget…!!! Pada di mana ya, elo-elo pada sekarang… Kalo kebeneran ada yang baca, kontak-kontakan dong… Biar nyambung lagi tali silahturahim di antara kita.

          Terakhir ketemuan, kalo ngga salah inget, tahun 1996 an. Kita ngumpul waktu itu di depan Kantor Ditjen Pajak, terus jalan ke Cisarua. Bawa 1 mobil, ngga tahu mobil siapa waktu itu. Yang berangkat waktu itu Yudo, Lingling (Dwi Retno), Susi Purwanti, teruss…. ah, lupa lagi deh… Belakangan ini, beberapa kali ketemu sama Tri Ningsih (Nining), tapi nggak terlalu banyak ngobrol waktu itu.

          Waktu itu, kalau habis pulang sekolah, istirahat sebentar di rumah, terus sekitar jam 14.00 an, kita kumpul lagi deh, untuk main bola di Lapangan Kebo. Lapangan ini sekarang sudah menjadi Bank Mandiri Gatot Subroto, sebelah Polda Metro Jaya persis.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.