Nge-backpack ke Hongkong &Macau…(1)
18 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Ini untuk kesekian kalinya saya jalan nge-backpack karena kebetulan ada tiket murah. Penerbangan Mandala Air, dalam rangka promosi rute baru mereka ke Hongkong & Macau, memberikan (lebih tepatnya menjual…) tiket promosi ke HK dengan harga Rp 799.000. Perjalanan saya ini saya jalani pada bulan Juli 2010.
Saya membeli tiket Jakarta – Hongkong PP lewat internet. Harga lewat internet adalah harga yg paling murah, sesuai dgn tarif yg dipromosikan lewat surat kabar, yaitu Rp 799 ribu tadi. Sedangkan kalau membeli lewat kaunter resmi mereka akan dikenakan tambahan biasa sekitar Rp 100 ribu. Harga tersebut juga belum termasuk bagasi. Jadi kalau saya mau menitipkan tas di bagasi pesawat, maka saya dikenakan biasya sekitar Rp 100 ribu lagi. Karena saya jalan sendiri, saya pikir ngga masalah lah membawa tas ke dalam kabin….
Akhirnya saya untuk memesan tiket dgn harga tersebut diatas. Oh iya, harga tersebut diatas adalah harga untuk sekali jalan. Jadi untuk pulang pergi saya mengeluarkan biaya kurang lebih Rp 1.600.000 an (plus pajak bandara di HK). Untuk tarif normal, setelah saya tanya-tanya ke biro-biro perjalanan, jatuhnya sekitar 3 -4 juta PP. Lumayan juga khan selisihnya….
Pada hari keberangkatan, kondisi badan saya kurang baik. Jadi saya terpaksa membawa tolak angin cair dan minyak kayu putih botol kecil (obat-obatan pribadi seperti ini sebenarnya bawaan wajib bagi pelancong-pelancong sendirian seperti saya ini…
Pesawat Mandala Air yg saya tumpangi rencananya berangkat dari bandara Soetta sekitar pukul 16.50 dgn lama perjalanan sekitar 5 jam. Jadi sampai di HK dijadwalkan sekitar pukul 22.00. oh ya, terdapat perbedaan waktu 1 jam antara HK dan Jakarta. Jadi kalau di Jakarta pukul 22.00, di HK sudah pukul 23.00…. lumayan malam sebenarnya, tapi jangan takut, di HK jam segitu masih cukup ramai. Kendaraan umum pun masih banyak yg beroperasi. Bis, MTR dan taksi masih banyak yg beroperasi.
Penerbangan 5 jam ini merupakan penerbangan terlama buat saya. Tapi buat saya ngga masalah, kebetulan malah, karena setelah minum tolak angin cair, mata jadi ngantuk… dan saya bisa tidur cukup panjang selama perjalanan. Biasanya kalau perjalanan 1- 2 jam, saya ngga bisa tidur. Apalagi ini penerbangan malam, jadi ya di atas pun cuma gelap gulita yg ada….
Di perjalanan saya bertemu beberapa orang yg kemudian jadi teman ngobrol. Yg pertama Ade, dia ke HK nengokin pacarnya, Adelina, yg tinggal di China, tapi janjian ketemuan di HK. Terus seorang lagi, pedagang asesories hp di Pluit yg mau cari barang ke China. Terus 2 orang lagi yg bekerja di perusahaan tekstil. Kebetulan keempat orang ini ternyata akan menginap di tempat yg sama, yaitu Chung King Mansion, di Tsim Tsa Shui, Nathan Road.
Nathan Road adalah nama jalan yang sangat kesohor di kalangan turis yg datang ke HK. Di kawasan ini banyak sekali penginapan-penginapan, dari kelas backpacker hingga kelas hotel bintang lima. Kawasan ini sangat…sangat… padat…!! Bukan main, jalan pun kadang-kadang agak susah, karena sering bertabrakan dengan orang lain. Kabarnya kawasan ini adalah kawasan yg paling padat sedunia jika dihitung orang per kilo meternya. Konon pula, Orchard Road di Singapura, yg merupakan tempat belanja kesohor para turis, konsepnya meniru penataan lingkungan di Nathan Road ini…. Cuma menurut saya lebih nikmat di Orchar Road, karena suasananya masih sangat teduh imbas dari banyaknya pohon-pohon besar yg dibiarkan hidup.
Kembali ke cerita perjalanan saya. Saya berencana tinggal di HK selama 5 hari 4 malam. Saya sudah memesan tempat menginap via internet di kawasan Causeway Bay, pada hari kedua saya di HK. Sedangkan malam pertama saya tiba, saya berencana untuk tidur di Bandara International Hongkong…. Saya pikir, sayang uang buat nginap. Toh, paling saya cuma tidur aja. Mending nginap di Bandara aja, pasti banyak juga para backpacker yg nginap di sana…
Tapi ternyata saudara-saudara… karena bertemu dengan orang-orang diatas tadi, saya jadi terprovokasi untuk ikut mereka nginap di Tsim Tsa Shui, tepatnya di Chung King Mansion seperti mereka… ya sudah, rupanya bujukan mereka lebih kuat, ya sudah, ikutlah saya dengan mereka ke tempat mereka nginap….dasar….!
Sebelum saya, tepatnya kami, meneruskan perjalanan dari bandara ke tempat kita menginap, saya menyempatkan diri membeli Octopus Card. Kartu ini bisa digunakan untuk naik MTR, bis, taksi, dan juga belanja di 7 Elevan. Untuk para pelancong, kartu ini sangat membantu karena tidak perlu repot-repot menukarkan koin bila mau naik angkutan di HK. Saya membeli kartu yg seharga HK$150. Nilai nominal sebenarnya adalah HK$100, sedangkan 50-nya untuk deposit dan bisa di refund jika sudah tidak memerlukan kartu tersebut, atau bila mau meninggalkan HK. Tetapi, Octopus Card bisa digunakan hingga tahunan, alias tidak expired…. kalau tidak salah hingga 3 tahun. Bila nominalnya berkurang karena sering kita pakai, kita pun dengan mudah bisa mengisi ulang kartu kita lewat mesin yg banyak terdapat di stasiun-stasiun MTR di HK.
Sesampainya di penginapan, ternyata setelah tawar menawar kamar, dengan dibantu oleh ceweknya Ade, saya memperoleh kamar dengan harga HK$120 yg kalau dirupiahkan sekitar Rp 140 ribuan… cukup murah menurut saya…
Sebelum tidur, saya sempatkan dulu jalan-jalan ke Avenue Star yg terletak tidak terlalu jauh dari tempat saya menginap. Tinggal nyebrang jalan saja. Avenue Star ialah suatu tempat di tepi pantai yg lantai-lantainya dihiasi oleh tanda tangan dan cetakan tangan bintang-bintang film HK. Tempat ini juga menjadi tempat berkumpulnya para warga HK maupun turis-turis bila ada perayaan-perayaan, seperti tahun baru, imlek-an, dan lain-lain. Tempatnya sangat enak untuk duduk-duduk sekedar melepas lelah sambil menyaksikan deretan pencakar langit yang terdapat di Hongkong Island….
Thailand, Malaysia, Singapura…(bag.2)
15 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in Panorama
Perjalanan dari Johor ke KL memakan waktu kurang lebih 4 jam-an. Dengan pemandangan kiri kanan perkebunan karet dan sawit, sepertinya agak membosankan. Rute dari Johor ke KL seluruhnya melewati jalan tol yg lebar. Ini enaknya… dan ternyata, perjalanan hingga Thailand melewati jalan tol yg lebar ini… sedapnyeee….
Sampai terminal Puduraya kurang lebih jam 7 malam. Saya lalu mengirim sms ke teman saya, yg orang Malaysia, Misai (Wan Fakhrul ), mengabarkan bahwa saya sudah sampai Puduraya. Kebetulan Misai berkantor tidak terlalu jauh dari Puduraya. Dia balik sms bahwa suruh tunggu sekitar 1 jam-an….
Misai ajak saya makan di… apa ya, lupa saya namanya. Sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul…ngga terasa waktu sudah menunjukan jam 10.30 malam. Sambil muter-muter sekitar Puduraya cari tempat nginap. Di sekitar terminal Puduraya banyak terdapat hostel-hostel backpacker-an yg murah meriah… kisarannya kalau dirupiahkan sekitar 100 – 300 ribu-an per malam. Tetapi sebelum saya memutuskan untuk nginap di dekat-dekat Puduraya, iseng-iseng saya coba tanya ke loket-loket yg ada di sana, apakah masih ada bis yg menuju Thailand… Woillaa…. ternyata masih ada bis terakhir yg berangkat, sekitar pukul 11.30 an. Tanpa pikir panjang, saya putuskan untuk berangkat langsung ke Thailand malam itu juga… lumayan, daripada buat nginep di hostel, mending langsung naik bis, langsung tidur di bis, tho’ sama aja, merem-merem juga…he..he…
Sampai perbatasan Malaysia – Thailand hari sudah pagi. Sepertinya supir sengaja memperlambat tempo dengan beristirahat cukup lama di..ntah namanya… katanya sambil menunggu pintu perbatasan Thailand di buka. Oh iya, di Malaysia nama daerah perbatasannya Bukit Kayu Hitam, Kedah. Sedangkan di Thailand namanya Sadao, Songkhla.
Akhirnya saya sampai di tujuan, yaitu kota Hat yai ( Hadyai). Bis yg saya tumpangi berhenti terakhir di tempat semacam biro/agen perjalanan. Nah, di Hatyai inilah saya memutuskan menginap barang semalam. Saya tidak meneruskan jauh ke dalam negara Thailand, karena waktunya pasti tidak cukup untuk saya balik lagi ke Singapura. Tarip hotel di Hatyai menurut saya lumayan murah. Saya menginap di Pink Hotel, dengan tarif 600 Bath. Bila di-rupiahkan sekitar 180 ribu rupiah. Kamar hotel cukup luas dengan AC+TV+kamar mandi shower air panas….. cukup murah khan….
Hotel Pink Lady
Hatyai
Hatyai juga
Pasar di Hatyai
Di Hatyai, waktu yg saya alokasikan adalah 2 hari 1 malam. Tiba pagi, balik lagi ke KL malam keesokan harinya. Waktu 2 hari ini saya kira cukup untuk muter-muter mengekspor hatyai. Naik tuk tuk, dan jalan kaki. Harga-harga makanan pun saya kira cukup bersahabat dengan kantong seorang backpacker…
Oh iya, pada saat mau pulang, saya agak mendapat masalah, yg menurut saya agak gawat. Ternyata pada saat saya menyerahkan tiket bis ke petugas yg kemarin saya beli, tanggalnya telah lewat sehari…! Ternyata tiket yg tertera adalah tanggal waktu saya datang. Padahal waktu saya beli, seingat saya sudah saya bilang untuk besok pukul 7 malam. Di sini saya berdebat cukup lama dan alot dengan mbak-mbak yg melayani saya kemarin. Akhirnya karena tidak ada jalan tengah alias saya dan mbaknya sama-sama keukeuh, si mbak memanggil atasannya…
Sang atasan pun akhirnya ambil keputusan, ” Oke… ini yg pertama dan terakhir. Bila lain kali kamu seperti ini lagi, tidak akan saya tolerir….! yang akan kami jadikan patokan adalah yg tertera di tiket..!”. Begitu kira-kira kata-kata dari sang supervisor, yg tentunya dalam bahasa Inggris. Alhamdulilah, ngga jadi keluar duit buat beli tiket lagi… Sebenarnya kalau dipikir, itu juga salah saya, karena pada saat menerima tiket tidak melihat tanggal yg tertera di tiket…. untung aja…..
Mau balik ke KL setelah menikmati Hatyai
Nih dia yg bawa balik ke KL
Akhirnya saya bisa kembali ke KL malam itu juga, dengan bis yg kali ini berjenis bis tingkat. Malam itu saya bisa berhemat ongkos penginapan 1 malam lagi karena bermalam di dalam bis yg melaju dengan cukup kencang. Ini ditunjang dengan kondisi jalan yg lumayan mulus. Akhirnya bis tiba di Puduraya sekitar pukul 3 pagi… Cukup banyak orang yg berkeliaran di terminal itu pada waktu itu. Herannya, saya tidak merasakan takut atau apa gitu ditempat yg asing dan sendirian pula itu. Oh ya, kalau pergi sendiri, usahakan jangan sampai terlambat makan. Karena sangat bahaya kalo badan kita sampai sakit. Karena itu pula saya memutuskan mengisi perut dengan nasi lemak dan segelas teh tarik di Restauran Annuja, persis di seberang terminal Puduraya. Untung di restauran itu ada pengamen yg masih asyik bernyanyi, sehingga dinihari itu saya ngga kesepian….. lumayan lagi…. Pengamen itu menyanyikan beberapa lagu DEWA, I’m Yours-nya Jason Mraz, dan beberapa lagu asing lagi… saya ikut memberikan tip beberapa ringgit Malaysia.
Setelah matahari terbit, barulah saya beranjak masuk ke terminal Puduraya. Kali ini tujuan saya adalah bersih-bersih badan serta menitipkan koper ke tempat penitipan koper yg ada di sana. Karena bis yg akan membawa saya dari KL ke Singapura baru akan berangkat malam hari, tepatnya jam 10 malam, maka saya masih ada waktu seharian penuh untuk jalan-jalan di KL ini….
Seharian di KL lumayan padat aktivitas saya. Pagi-pagi sekali, setelah menitipkan koper ke tempat penitipan yg bertarif RM3 sehari, saya bergegas ke kawasan menara Petronas. Saya berniat naik ke menara itu. Ini kali kedua saya naik ke menara itu. Dengan menaiki LRT, saya sampai ke bawah menara dan langsung antri tiket. Antrian sudah cukup panjang, padahal baru jam 7 pagi. Saya memilih naik ke menara pada jam 9. Teratur sekali antrian yg ada. Ngga ada tuh yg namanya dorong-dorongan, rebutan… semua sudah saling mengerti…
Di menara Petronas, sama dua bocah cilik
Petrosains, tempat beli oleh-oleh buat emil & oki
Monorail yg nemenin keliling KL seharian
Setelah turun dari menara, saya sempatkan diri membeli oleh-oleh untuk kedua anak saya, Oki dan Emil, di Petrosains, Suria KLCC. Lalu saya mengontak teman saya lagi, kali ini Lan. Dia adalah kawan pertama saya di Malaysia ini. Kita janjian bertemu di KL Sentral, dulu tempat kita pernah ketemuan juga. Karena sudah mepet waktunya, saya langsung jalan ke KL Sentral dengan menaiki monorail. Akhirnya saya bisa bertemu Lan, kawan lama saya. Lan mengajak makan siang di McDonald KL Sentral. Sambil kita saling menceritakan keluarga kita masing-masing. Dia juga bercerita bahwa akan ke Vietnam untuk menonton pertandingan sepak bola antara Selangor FC melawan salah satu kesebelasan di Vietnam dalam rangka AFC Cup.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Lan harus kembali ke kantornya yg lumayan jauh dari KL Sentral. Saya pun berpamitan kepadanya, dan menitip salam untuk keluarganya. Saya membelikan kaos Thailand untuk Lan dan Misai. Saya melanjutkan berkeliling KL… Kali ini saya ke Pasar Seni yg tidak jauh dari Puduraya. Sebenarnya, di Pasar Seni saya berniat hanya sebentar saja, tapi pada saat saya mau meninggalkan tempat itu, hujan turun dengan derasnya….. Ya udah, terpaksa deh muter-muter di situ aja… untuk lumayan banyak barang-barang yg bisa dilihat di situ.
Akhirnya menjelang maghrib saya baru bisa keluar dari Pasar Seni. Saya langsung ke Puduraya, makan malam di Restauran Annuja lagi… Karena hari sudah gelap, saya ngga mau jauh-jauh dari Puduraya. Saya isi waktu sambil ngobrol-ngobrol dengan penjaga penitipan koper. Akhirnya sekitar pukul 10 malam saya harus meninggalkan Kuala Lumpur menuju Singapura. Sedih juga harus meninggalkan KL…
Bis yg saya tumpangi hanya terisi setengah saja. Berjalan menembus kegelapan malam Malaysia. Menjelang Singapura, mulai terlihat lampu-lampu kota yg berpendar-pendar, sangat menarik…. Saya tiba di Singapura pukul 4 pagi. Lalu untuk menunggu MRT yg mulai beroperasi pukul 6 pagi, saya bersih-bersih di pom bensin di kawasan Golden Mile Complex. Karena pesawat yg saya tumpangi dari Singapura ke Jakarta berangkat pukul 10, masih ada beberapa jam, saya memutuskan untuk naik MRT ke Orchard Road. Senang juga kembali lagi ke Orchard Road yg bersih dan asri itu….
Akhirnya menjelang pukul 8.30 pagi saya memutuskan untuk berangkat ke bandara Changi. Nyaman sekali bila ke bandara bisa menetapkan waktu dengan pasti seperti itu. Akhirnya pesawat Sriwijaya Air terbang, membawa saya, dari perjalanan ke 3 negara Thailan, Malaysia dan Singapura ke kota Jakarta tercinta.
Thailand, Malaysia, Singapura…(bag.1)
15 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in Panorama
Kali ini saya mau menceritakan pengalaman saya jalan sendirian ke Singapura, Malaysia dan Thailand. Keinginan saya untuk jalan kali ini berawal dari adanya iklan di surat kabar dari maskapai Sriwijaya Air, yg baru membuka rute Jakarta – Singapura.Di iklan disebutkan, untuk promosi pembukaan rute baru tersebut, selama bulan Maret 2010 mereka memasang tarif Jakarta-Singapura PP dengan harga US$45, ini kalo di-rupiah-kan sih kurang lebih Rp 450.000. Wuihhh… murah banget…!
Besoknya langsung aja saya ke Sriwijaya Air yg di Jalan Barito, Blok M. Setelah saya bayar menggunakan kartu kredit, ternyata yg di-kreditkan dari kartu saya hanya Rp 420.000 saja (karena US$1 hanya sekitar 9 ribu sekian…). Coba itu, lumayan murah khan…? kayaknya malah lebih mahal naik kereta Argo yang ke Yogyakarta deh, yg sudah sekitar 300 ribuan….
Pada hari keberangkatan, pagi-pagi saya dari rumah naik motor, anter Oki sekolah, anter istri ke kantor dan langsung ke kantor saya yg berada di Palmerah buat nitip motor. Lalu dari Palmerah, karena kayaknya waktunya sudah agak mepet, saya terpaksa naik taksi…
Sampai bandara Soetta, terminal 2, saya langsung chek in ke kaunter Sriwijaya Air, terus urus bebas fiskal pakai kartu NPWP…Oh iya, buat pemegang NPWP, bisa menanggung bebas fiskal untuk istri, anak, orang tua dan mertua (top banget deh kantor pajak…!) . Setelah itu langsung masuk antrian imigrasi yang lumayan panjang…
Setelah menunggu sekitar 45 menit, penumpang dipersilahkan naik ke pesawat. Dalam perjalanan di atas pesawat, ada hal yg agak di luar dugaan saya. Yaitu ternyata penumpang dapat jatah makan besar dan minuman gratis… ya sudah, dengan sangat ‘terpaksa’ saya gunakan azas mumpung… mumpung gratis, hajar…! itu jatah makan ngga tersisa sama sekali. Malah saya minta tambah jatah minum…he..he… Lumayan, makan siang gratis… backpacker-an gitu lho….
Setelah mendarat di Changi, saya langsung turun ke MRT Station, beli ticket sekali jalan dgn tujuan stasiun Kranji. Dari Kranji, kita keluar stasiun, terus naik bis yg bertujuan ke Terminal bis Larkin (Johor, Malaysia). Lalu lanjut ke terminal Puduraya, Kuala Lumpur. Sebenarnya saya bisa langsung naik bis dari Singapura langsung ke Puduraya, Malaysia. Tapi harganya jauh lebih mahal, bisa 3 kali lipat, walau dengan bis yg sama…. Mendingan selisih harga tadi saya pakai buat beli makan siang… Naik turun kendaraan umum seperti yg saya lakukan tidak merepotkan koq, karena rute dan bis-nya lumayan banyak, hampir setiap 5 menit ada bis dari Stasiun Kranji, Singapura yang nyebrang ke Terminal Larkin, Johor, Malaysia.
Singapura, dari MRT menuju stasiun Kranji
Bus dari KL ke Hatyai, Thailand
Oh iya, hampir lupa. Pada saat naik bis dari Singapura ke Terminal Larkin, Johor, sewaktu di imigrasi, kita harus bawa turun barang bawaan kita, karena bis yg kita naiki tadi akan langsung jalan ke Larkin, sementara kita di imigrasi (baik imigrasi Singapura maupun Malaysia). Yang penting, tiket bisnya harus kita simpan, karena sewaktu-waktu bisa ditanyakan oleh sopir bis-nya. Yang penting kita naik dengan bis yang satu perusahaan…
Lalu sampai terminal Larkin, Johor, kurang lebih pukul 3 sore. Terminalnya lumayan ramai. Menurut saya bis-bis yg ada bagus-bagus dengan tempat duduk 1-2. Oh iya, ancer-ancer harga tiket bis, dari Larkin ke Puduraya, KL kurang lebih 25 – 35 RM (Ringgit Malaysia). Di sini juga banyak yg nawar-nawarin bis, persis kayak di terminal Lebak Bulus. Nah, di sini kalo kita ngga beli tiket di loket, kita bisa tawar menawar dgn orang yg nawa-nawarin bis tadi. Ini yg saya lakukan… setelah tawar menawar, saya dapet harga RM25 ke Puduraya, KL… lumayan khan…
Bencoolen 2
24 Nov 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Panorama
Akhirnya kita sampai di tujuan, Bandara Changi , Singapura. Sebelum melewati kaunter imigrasi Singapura, seperti biasa ritual setelah turun pesawat, serbu toilet…! Nggak tahu kenapa, banyak orang selalu menuju toilet selepas naik pesawat. Mungkin karena AC yg dingin, atau hanya kebiasaan saja ya….
Toiletnya kelihatan sangat terpelihara. Bersih dan tidak bau pesing… Mungkin karena selalu ada petugas yg standby menjaga. Dan tetap tidak ada yg berubah di Changi, petugas-petugasnya adalah para lanjut usia.
Kita melewati Imigrasi, seperti biasa, ditanya-tanya pertanyaan standar. Lewat imigrasi kita melewati tempat yg berisi peta-peta seluruh kegiatan, jalan, transportasi bus dan kereta, tujuan wisata di Singapura. Kita ambil beberapa sesuai dengan rencana kita di Singapura. Oh iya, peta-peta itu bisa kita dapatkan secara free alias gratis tis tisss…. Lalu kita ke tempat pengambilan bagasi, ambil tas. Di sudut dekat pintu keluar, ada kaunter money changer. Saya pun mampir ke kaunter itu untuk menukarkan rupiah kita ke dollar Singapura….
Setelah naik taksi kira-kira 15 menit-an, sampailah kita di hotel rencana tempat kita menginap. Ternyata, hotel Bencoolen dan hotel 81 Bencoolen itu bersebelahan, sebelahnya lagi hotel Sommerset. Kita lalu masuk kamar dulu untuk beristirahat. Oki bilang, ” Koq, kamarnya kecil sih pak…??? “ lalu saya terangkan, memang kamar di Singapura kecil-kecil, tidak sama misalnya dengan di Indonesia, itu karena Singapura adalah negara kecil, hanya punya sedikit tanah…. he..he..bener ngga ya….?!?!
Setelah beristirahat sekitar 2 jam, kita langsung cari makan dulu. Kita beli di gerai-gerai makanan yg ada di sekitar hotel. Oh iya, untuk muslim, jangan takut, karena penjual akan memberitahu kalau makanan yg dia jual halal atau tidak. Atau ada ciri khusus, yg ber-cat hijau, maka bisa dipastikan makanan di toko makanan itu adalah halal, karena itu sudah merupakan ciri resmi dari pemerintah Singapura…. gampang khan….
Setelah makan, kita berencana pergi ke Orchard. Kita berjalan kaki sekitar 5 menit-an ke stasiun kereta bawah tanah MRT terdekat, yaitu Dhoby Gaut. Jangan takut tersesat di Singapura… jalan saja.. banyak petunjuk yang sangat membantu, dan sangat jelas… di Dhoby Gaut, kita membeli tiket MRT lewat mesin penjual otomatis. Caranya, tentukan stasiun tujuan kita, lalu akan tampak berapa harga yg harus kita bayar. Lalu kita masukan uang ke mesin tersebut. Maksimal mesin tersebut hanya menerima lembaran kertas 5 Dollar ke bawah. Mesin akan mengeluarkan kembalian secara otomatis. Sangat praktis dan mudah. Lalu kita tinggal tunggu kereta yg akan mengantar kita ke stasiun Orchard. Jarak dari Dhoby Gaut ke Orchar tidak terlalu jauh, hanya diselingi stasiun Sommerset saja. Dhoby Gaut pun sebenarnya berada di jalan Orchard juga, tapi di ujung Orchard.
Lalu kita jalan-jalan di Orchard. Benar-benar hanya jalan saja, karena kawasan itu sangat enak dan ramah untuk pejalan kaki. Trotoarnya lebar, dan lingkungannya diteduhi oleh pepohonan yg besar-besar yg tumbuh dikiri-kanan jalan. Oki dan Emil minta es krim yg banyak berjualan di sekitar Orchard. Ya, sudah, sambil istirahat kita makan es krim dulu.
Lalu kita membeli camilan untuk di kamar hotel. Kita membeli di 7 eleven di Lucky Plaza. Karena kaki sudah berasa berat, lalu kita memutuskan pulang ke hotel. Kita naik taksi dari depan Lucky Plaza. Ada beberapa taksi yg ada dideret antrian menunggu penumpang. Karena termasuk jam sibuk, naik taksi di Singapura kita dikenakan tambahan biaya, kalau tidak salah $3. Sampai dihotel saya menyerahkan S$10 dan dikembalikan sekitar 2 dollar sekian sen… Memang tidak terlalu jauh jarak yg kita lalui.
Bencoolen 1
23 Nov 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Panorama
Hari yang saya tunggu-tunggu itu datang juga… Selasa, 10 November 2009. Ngga sabar nunggu hari H-nya. Malam sebelum berangkat, kita sudah mempersiapkan apa-apa aja yang harus dibawa. Baju ganti, obat-obatan (perlu untuk yg membawa anak-anak, paling ngga minyak kayu putih-lah ), sabun, gosok gigi, handuk (padahal sudah ada di hotel..) sandal, celana pendek, soft lens, kamera, batere+card cadangan…
Akhirnya, setelah dipilah-pilih, disaring-saring, jadilah kita harus membawa 2 koper tanggung plus 1 tas punggung untuk mondar-mandir di Singapura nanti…. kita juga sudah mempersiapkan foto copy paspor, FC kartu keluarga, FC NPWP (untuk keperluan bebas fiskal), tiket pesawat dan voucher hotel… oh iya, kesemua dokumen-dokumen perjalanan itu tidak lupa saya foto semua, ini untuk berjaga-jaga, bila ada yg tercecer atau ketinggalan di mana tahu… musibah khan datangnya ngga bisa di duga… bukan begitu bukan …?? bukannnn…. he…he…he…
Selasa, 10 November 2009. Ely bangun jam 4 pagi, ini kebiasaan dia… Masak telur dadar sama sosis untuk sarapan kita. Saya kebagian mandi’in Oki & Emil… setelah rapi mandi dan sarapan, tinggal nunggu taksi yg sudah kita pesan semalam. Jam 05 kurang taksi datang. Kita segera berangkat… Menurut sopir taksi, karena masih pagi ngga perlu lewat jalan tol. Kita mengambil rute jalan belakang, yaitu dari Ciledug Raya, ke arah Tangerang, lewat pasar Bengkok, sampai perempatan, apa ya, saya lupa, ke arah Dadap, Pintu Air, sampailah kita di areal persawahan, yg ternyata sudah di pinggir bandara soekarno-Hatta. Waktu menunjukan pukul 05.35 an… hanya 1/2 jam lebih sedikit… ini kali pertama saya lewat rute ini ke Soekarno-Hatta. Argo menunjukan harga 74 ribuan… saya berikan 80 ribu… Makasih banyak pak sopir, terutama untuk melewati rute yg baru bagi saya ini…..
Langsung ke kaunter Garuda untuk boarding pass. Karena masih pagi, ngga terlalu antri. Ini juga salah satu trik untuk menghindari delay/penundaan pesawat terbang, pilih jadwal terbang sepagi mungkin. Membayar airport tax sebesar 150 ribu/orang alias 600 ribu… ck..ck..ck… belum jalan udah keluar duit setengah jeti lebih….
Selesai urusan boarding pass dan bagasi, lalu saya ke kaunter fiskal. Karena sudah mempunya NPWP, saya tidak perlu lagi membayar fiskal. Cukup menyerahkan FC paspor dan FC NPWP… ini lumayan banget…! kalau ngga ada NPWP, saya mesti membayar fiskal sejumlah 2,5 juta/orang. Sedangkan untuk anak dibawah usia 12 tahun, masih bebas fiskal.
Setelah mengurus surat bebas fiskal, kita tinggal ke bagian imigrasi. Di imigrasi, petugas akan memeriksa paspor, tiket, dan fiskal. Sambil sedikit ditanya-tanya pertanyaan seperti untuk keperluan apa, berapa lama, tinggal dimana…. oh iya, jangan lupa mengisi blanko dari imigrasi, yg akan disobek menjadi 2 bagian. Yang sebelahnya harus kita serahkan pada saat kembali nanti. Lalu kita langsung ke Gate D4. Setelah menunggu sekitar 45 menit-an, seluruh penumpang dipersilahkan naik ke pesawat….. hhmmmm…. senangnya ngeliat Oki sama Emil bercanda-canda di lorong belalai masuk pesawat…
Perjalanan ke Singapura kurang lebih akan memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit. Jadi kita ngga terlalu lama di udara… malah lebih lama di bandaranya dari sejak kedatangan, boarding pass, fiskal, imigrasi….
Di pesawat, ditawarkan koran, saya ambil koran Kompas. Setelah kurang lebih 10 menit-an mengudara, seorang pramugari menawarkan kepada para penumpang juice jeruk. Oki dan Emil ngga mau ketinggalan, ambil 1 cup kecil. Tidak lama kemudian, pramugari kembali memberikan makanan dalam baki.
Kali ini lumayan lengkap, isinya antara lain, roti tawar, butter, beberapa potong buah, coklat kit kat, telur dadar gulung berisi nasi ukuran lumayan besar (apa ya namanya..? ), peralatan makan lengkap, sambil tidak lupa mereka menawarkan beberapa pilihan minuman. Pilihan minumannya ada, Coke, bir, juice apel, mangga, kopi, teh, susu, atau cukup air putih…. hhmmm… lumayan banyak juga sih pilihannya… Saya pilih teh saja… Lalu Oki dan Emil mendapat masing-masing sebuah puzzle bergambar binatang dari seorang pramugari… alhamdulillah….
Cuti Besar
23 Nov 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Panorama
Bulan November 2009 ini saya merencanakan ambil cuti besar. Cuti besar ini bisa saya ambil karena masa kerja saya di kantor sudah mencapai 10 tahun… mayan lama ternyata saya bekerja.. tapi di kantor saya, masa kerja 10 tahun terhitung masih standar, karena masih banyak lagi yg masa kerjanya udah 15, 20, bahkan 25 atau 30 tahun… ck..ck… Saya berencana ambil cuti 2 minggu. Lalu bersama istri saya merencanakan mengisi libur dengan jalan lagi ke Singapura.
Mulai deh kita cari-cari tiket pesawat dan hotel/apartemen di Singapura. Kita agak lama memutuskan untuk memilih hotel atau apartemen, karena masing-masing punya kelebihan kekurangannya sendiri-sendiri… akhirnya kita mutusin tinggal di hotel saja.
Lalu kita mulai cari lokasi yg enak, alias yg terjangkau kantong..he..he… Awalnya saya milih yg berlokasi di sekitar Bencoolen, dengan pertimbangan dekat ke Orchard dan kawasan Bugis…
Di Bencoolen banyak juga hotel, seperti Ibis Bencoolen, Hotel Bencoolen, Hotel 81 Bencoolen, Sommerset Bencoolen, Bay View Bencoolen, dan beberapa backpacker hotels. Awalnya kita tertarik dengan Ibis Bencoolen, lebih karena reputasi nama besar Ibis-nya mungkin… Tetapi pada tanggal yg kita mau, ngga ada tempat lagi… Lalu Hotel Bencoolen, eh, sama juga dgn Ibis, full…!!
Akhirnya pilihan jatuh ke Hotel 81 Bencoolen. Hotel ini memasang tarif S$ 95/malam (belum termasuk breakfast). Petugas di Panorama Tours, tempat kita memesan hotel bilang, kalau mau breakfast, bisa memesan langsung pada saat check in dan dikenakan biaya $8.. Ya udah, kita mutusin milih Hotel 81 Bencoolen. Oh ya, sebelum kita memesan hotel, kita sudah lebih dulu beli tiket pesawat.
Awalnya kita tanya-tanya di Panorama juga, mengenai pesawat-pesawat apa saja dan jam berapa saja, tentunya beserta harganya. Untuk maskapai dalam negeri ada Lion Air, Sriwijaya Air, Garuda, Air Asia. Yg luar ada SQ, Lufthansa, pokoknya banyak deh… tinggal gimana kantongnya aja..he..he…
Tapi sebelum ditutup teleponnya, petugas itu ngasih tau, bahwa Garuda mau ngadain Garuda Trade Fair di JHCC, nah di sana kita bisa membeli tiket pesawat Garuda dengan harga sangat miring, istilahnya tiket promo. Petugas itu bilang, kalo harga normal Garuda biasa menjual tiket JKT-Sing-JKT seharga hingga US$ 120-an, kalo di Garuda Fair itu kita bisa dapat dengan harga US $85/orang. Ya sudah, kita mutusin pergi ke JHCC pada Minggunya. Saya harus membeli 4 tiket pesawat, karena Emil sudah harus membayar full. Dulu, waktu ke Malaysia, karena belum berumur 2 tahun, Emil bisa bayar 1/2 harga (infant), tapi sekarang, karena sudah hampir 4 tahun, dia harus bayar full… ya udah, ngga papa, memang sudah besar koq…..he..he…
Lega, separuh persiapan sudah dikerjakan, yaitu tiket dan hotel…(ini adalah 2 komponen termahal kalau mau berlibur….). Tiket pesawat Garuda, untuk tanggal 10 November 2009, berangkat dari Bandara Soekarno Hatta jam 08.30. Lalu kembali dari Changi tanggal 13 November 2009 jam 17.30 (waktu Singapura). Terus Hotel 81 Bencoolen, check in 10 s/d 13 November 2009. Biaya yang sudah kita keluarkan, tiket 4 X US$85 ditambah hotel S$95 X 3 malam… jatuhnya kurang lebih sekitar 5 juta-an lebih deh…. lumayan juga ya biayanya….he..he.. ngga papa deh untuk refreshing keluarga ….
SDN Senayan 01 Pagi Bag. 3
27 Mei 2009 7 Komentar
in Dahulu
Teman-Teman SD yg datang kemarin berjumlah 12 orang.. lumayan juga sih, untuk ketemuan pertama setelah sekian tahun… nih sebagian teman-teman kecil saya…

Achmad Ruli…
Dulu di Tulodong, rumahnya ngetop banget dikalangan orang yg suka jajan makanan. Ini karena kakeknya buka rumah makan. Namanya Warung Makang Bang Ojak (bener ngga rul namanya nih…?). Makanan disitu yg ngetop namanya Kinca, yaitu ketan dicampur gula yg terbuat dari durian… sedap bangettt…
Ruli dulu termasuk anak rajin, pinter ngaji.. sekarang juga sih…
Dia sekarang kerja di Kawasaki. Sudah lumayan lama dia kerja di perusahaan otomotif ini. Lewat kariernya di Kawasaki ini dia sudah melanglang buana hingga Jepang… salut Rul…
Ari Dwi Kundarto…
Di kelas SD Senayan dulu, dia dipanggil Ari Gede, karena badannya gede, paling ngga dibanding Ari Kecil-lah… Dulu dia kalo becanda sukaaa… gitu deh… Pernah habis maen bola di lapangan Kebo, sama Firmansyah (alias Kucing Istora) dia becanda sampe kejar-kejaran, terus timpuk-timpukan sampai Firmansyah nangis sesenggukan…ck..ck… reseh juga lu Ri…
Ari sekarang tinggal di Maruyung, dekat Mesjid Kubah Emas. Dengan anak satu, Aska, dan juga istri satu, Yunani (jangan sampe nambah ya ri…). Sekarang kerja di bidang bangun-membangun rumah alias kontraktor.
Pipin Arifin…
Dia dulu andalan kita kalo maen bola nih, soalnya jago nge-shoot doi… kalo maen dilapangan kebo, mending ikut bagian dia deh, aman… sama persis kayak abangnya, Andi. Dia juga dulu andalan PS kita Tidar Sakti, di turnamen bola plastik di lapangan BBS…
Kalo ngga salah sekarang anaknya sudah 2, dan kerja di bidang percetakan. Dulu pas Pipin nikah, kita datang rame-rame, di Pondok Gede kalo ngga salah.
Saronto….
Dulu biasa dipanggil Yoyok. Dia juga termasuk pemain tim kita dulu, Tidar Sakti. Saronto hobinya ngebodor alias ngelawak… sampe pertemuan terakhir kemarin di SD Senayan, teteeepp aja nih anak ngelawak…awet muda nih…
M. Syafrudin…
Kita dulu biasa manggi Udin. Ini teman dari kecil banget nih, bahkan dari sebelum sekolah SD. Berlanjut ke SMP 56, sampai SMEA 3. Baru deh kita pisahan sekolah.
Yang paling saya ingat dari si Udin ini, dia khan ngga boleh jajan sembarangan sama ortu-nya. Terus dia suka ngumpet-umpet pengen jajan, dia kayaknya perlu temen buat jajan.., jadilah saya yg suka dijajanin alias ditraktir. Dulu ada, namanya warung Mbah Pecel, saya suka ditraktir beli limun rasa sirsak di situ… tetep dgn cara ngumpet-ngumpet, takut ketahuan sama ortu-nya Udin…he..he..
Ada lagi yg saya ingat, karena rumah kita berdekatan, kalo belajar kelompok kita selalu bersama. Satu lagi temen belajar kelompok namanya Jarwoko. Apalagi kalo disuruh nyatet pertanyaan-pertanyaan dari acara “Cerdas Cermat” di TVRI… Di rumah Udin waktu itu termasuk lengkap, ada TV, mini compo yg bisa ngerekam, sama makanan kecil tentunya…
Sekarang dia sudah jadi guru komputer di sebuah SMU di Pondok Gede (kalo ngga salah ya…). Anaknya sudah 2.
Yunani…
Baru tahu belakangan ini aja, kalo nama belakangnya itu Susiati. Dulu akrab di sapa Yuyun. Dia ini adalah penguasa kelas kita dulu waktu SD, alias selalu juara kelas…. dari kelas 1 sampai 6…!!! keren ngga tuh… kalo ngga salah inget, dia juga punya adik perempuan, yg pinter juga lho… Karena kepinterannya itu, sekarang dia bisa berkarir di Departemen Keuangan, alias orang pajak. Berkantor di Kantor Pajak dekat Pasar Mayestik, Kebayoran Baru.
Sekarang Yunani tinggal di Maruyung, Depok. Dengan anak 1, Aska. Suaminya…. ya si Ari Gede itu… namanya juga jodoh, ya ngga kemana-mana deh… Ini pernikahan dua juara menurut saya, yg satu juara kelas, yg satu juara bangorrrr…. ( sorry Ri… becanda… )
Susi Purwanti
Dari dulu sampe sekarang, ada yg ngga berubah dari Susi ini, yaitu kalo cerita, rame..! Dia termasuk anak yg pinter dulu di SD dan aktif.. sangat aktif malah…
Kita juga melanjutkan ke SMP yg sama, yaitu SMP 56 Melawai. Dulu saya juga banyak belajar mengenai Bahasa Inggris ke Susi. Terutama conversation-nya… kita suka ngobrol lewat telepon, menggunakan bahasa Inggris (walaupun belepotan…)…. inget ngga Sus…?
Sekarang dia sudah mempunyai junior 2 orang, lelaki semua, dan sekarang tinggal di Harapan Baru, Bekasi.
Rini Fani…
Terus terang, tentang Rini ini, ngga banyak memori yg terekam dari waktu kita kecil dulu. Paling yang saya inget dari dia, kalau ke sekolah suka dianter bapaknya naek motor… itu aja… Tapi belakangan ini, setelah puluhan tahun, malah dengan Rini ini saya suka chatting… dgn suaminya juga…
Rini sekarang tinggal di Pancoran Emas, Depok. Dia sudah punya 4 anak..( tambah lagi dong rin…)
Fajar Tri Hendratmo…
Kadang dipanggi Hendra, kadang juga Fajar Gendut, karena ada Fajar satu lagi, yaitu Fajar Rivai yg ngga segemuk dia. Yang masih terekam dari masa kecil dia, ya itu tadi, dia anak laki paling gemuk di kelas… paling makmur… Dia juga termasuk pinter atau paling ngga, wawasannya cukup luas…
Dia pernah jadi pelaut, kurang lebih 3 tahun lebih… keliling dunia mulu dong… sekarang jadi seorang fotografer.. Punya usaha juga yg lumayan maju, namanya Sroto Sukaraja. Tinggal di Bekasi, mempunyai 1 anak.
Sujarwoko…..
Dulu biasa dipanggil Jarwoko. Bersama dengan Moch. Syarifudin, kita dulu adalah teman belajar kelompok. Ini juga karena rumah kita bertiga saling berdekatan waktu di Tulodong dulu… Jarwoko dulu di lingkungan rumah termasuk keluarga yg berkecukupan, mungkin karena bapaknya bekerja di Pertamina (lagi top-topnya tuh Pertamina dulu…)
Dulu, waktu belajar kelompok, kita biasanya belajar di rumah Moch syarifudin atau Jarwoko, soalnya dirumah mereka berdua selain ada TV juga ada radio tape. Kalau dirumah saya cuma ada TV saja, jadi jadwal belajar kelompok kita relatif jarang di rumah saya.
SDN Senayan 01 Pagi Bag.2
11 Mei 2009 6 Komentar
in Dahulu
Tahun lalu, untuk mengobati rasa kangen sama teman-teman SD, saya menulis tentang SD Senayan 01 Pagi. Di situ saya tulis nama-nama teman yang masih saya ingat, dengan harapan ada yang search atau membaca lewat google atau yahoo misalnya. Ternyata ada beberapa teman yang membaca dan meninggalkan komentar dan nomer telepon… Yunani Susiati, Susi Purwanti, Moch. Syafrudin.. ada juga Tonny Wahyudi, yang ternyata adiknya Achmad Rully meninggalkan nomer telpon Rully.

Nah, setelah kontak-kontakan sama Ari Dwi Koendarto, Yunani, Rini dan Susi akhirnya kita sepakat untuk ketemuan lagi. Ada beberapa teman yg berhasil kita kita kontak dan menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah pertemuan. Fajar Rivai (Cipadu), Budut Imam (Kebagusan) Ari DK (Cinere) menawarkan rumah mereka menjadi tempat pertemuan… Akhirnya setelah rembukan masalah tempat, kita sepakat untuk mencari tempat yg mudah diakses dari mana saja. Maka kita sepakat kumpul di The Buffet, Plaza Semanggi, Minggu tanggal 10 Mei 2009 jam 11.00.
Hari Minggu (10/5) saya bangun sekitar jam 7 pagi. Mata masih ngantuk, maklum semalam kerja baru pulang jam 1 dinihari, terus baru bisa tidur jam 3-an. Sepeda-an sebentar keliling sekitar rumah sambil beli koran sama Oki, jagoan saya… Lalu jam 10-an saya jalan ke Plaza Semanggi. Cuaca lumayan cerah, terik banget malah…. Saya berharap jam 10.30-an bisa sampai di Semanggi… tapi ternyata ngga mungkin, soalnya macet sudah dari depan pom bensin Tomang Tol, Ciledug Raya. Waduh…. kacau nih… !! biasanya macet di sekitar situ baru lancar sampai depan Giant Kreo. Terus akan ketemu macet lagi sekitar Jalan Lurah, Petukangan Selatan….. kalau naik motor sih bisa selap-selip.. ini kebetulan saya bawa mobil. Ya udah, akhirnya saya ambil jalan lain, agak memutar lewat perumahan DKI sampai Kostrad, Petukangan Utara, baru masuk Ciledug Raya lagi lewat perempatan Unilever. Lega akhirnya bisa ketemu jalan lancar… Di jalan telpon sudah bolak-balik berdering teman menanyakan posisi dimana,pertama Susi, terus Pipin, terus Fajar Tri Hendratmo nanya’in sudah sampai mana…

Akhirnya sampai The Buffet sekitar jam 11.30-an. Lirak-lirik ke kiri kanan, dimana ya, anak-anak… eh, ketemu juga… yg sudah datang ada Susi, Yunani, Ari DK, Rini & Suaminya, beserta anak-anak mereka. Ngga lama kemudian muncul Achmad Ruly, Fajar Tri Hendratmo, Pipin sama istri dan anaknya. Terus Saronta sama anak pertamanya juga muncul ngga lama kemudian… wah seru banget, ngga nyangka bisa ngumpul lagi. Yang datang sekitar 12 orang, saya pikir lumayanlah untuk pertemuan pertama setelah sekian puluh tahun ngga kumpul….Oh ya, lupa nyebutin Mochamad Syafrudin juga datang. Dia teman saya, bahkan sebelum sekolah SD, karena kita bertetangga. dari SD, SMP, sampai SMEA jadi satu sekolah terus…

Mulai deh, cerita-cerita masa lalu. Dari siapa yg paling sering di pukul tangannya sama Bu Ida, guru seni musik, main bola di lapangan kebo, Ari DK yg ditampar Pak Edy karena nendang bola sampai mecahin kaca kelas, Fajar Tri alias Gemblong yang kerjaannya sekarang ngintipin orang terus alias fotografer, Saronto yg waktu nikah cemberut aja karena keluarganya telat dateng, Ruli yg engkongnya ngetop dengan ketan Kinca-nya dan sudah melanglang buana ke Jepang sama Thailand, terus Susi yg nari di perpisahan pantai Salira, Yunani yang dari kelas 1 sampai 6 juara kelas melulu (heran…. ngga ada bosennya juara kelas lu Yun…) sampai cerita mengenai Bu Muyasih, guru kita dari kelas 4 sampai 6 yang sudah meninggal… semoga Bu Muyasih diterima disisi-NYA… Dan masih banyak lagi cerita-cerita yg aneh, kocak, keluar dari obrolan tsb. Sambil ngga lupa kita bolak-balik ambil makanan, karena The Buffet adalah restauran All You Can Eat.
Di acara ketemuan itu juga keluar rencana-rencana kita selanjutnya supaya hubungan kita yang sempat vakum bisa sambung lagi. Ada yg ngusulin jalan bareng keluarga ke Puncak, Ziarah ke makam Bu Muyasih, sampai niat mau ngadain arisan 2 bulanan. Sepertinya ketiga rencana tadi bisa dilaksanakan, semoga saja….
Terus, setelah sekitar 2 jam-an ngobrol ngelepas rasa kangen, kita ngelanjutin acara ke sekolah kita dulu yg jaraknya ngga terlalu jauh. Hanya di sebrang jalan Gatot Subroto. Kunjungan ke sekolah ini atas usul Susi. kita bersama pergi ke Sekolah SD Senayan yg sekarang sudah jadi Akademi Pariwisata. Acara kangenan berlanjut sampai hingga pukul 5 sore, tidak lupa kita foto-foto dulu, yg banyak diambil Fajar Tri Hendratmo yg sekarang bekerja sebagai fotografer di koran Merdeka. Setelah jam 5-an kita pun membubarkan diri sambil janjian akan ketemu lagi, mungkin di rumah Ari DK di Kota Wisata. Saya pulang bareng sama Moch. Syafrudin dan Saronto. Mereka turun di depan Polda Metro Jaya dan menyebrang jalan ke arah Bekasi, kebetulan mereka searah.
Senang banget rasanya bisa ketemuan lagi sama-teman-teman masa kecil dulu setelah belasan tahun ngga ketemu. Ini juga atas andil dari Facebook dan Blog yg memudahkan komunikasi diantara kita.

Akhirnya… Seli-ku….
13 Apr 2009 18 Komentar
Setelah tahun lalu ngga jadi beli sepeda lipat (seli), di tahun 2009 ini rupanya hasrat buat punya seli masih ada di dalam hati. Apalagi koperasi kantor menjalin kerjasama sama Polygon, merk sepeda ternama. Jadi kita bisa membeli sepeda Polygon dengan cara mencicil 10x bayar lewat koperasi.
Polygon mengeluarkan 2 jenis seli, yaitu Urbano dan Metro. Keduanya mempunya beberapa perbedaan. Polygon Urbano, dengan harga sekitar Rp 2.700.000-an memiliki gear 6 speed, diameter ban 20 inchi, warna hitam. Sedangkan Polygon Metro dengan harga Rp 2.300.000-an memiliki gear single speed alias 1 gigi saja. Terus diameter bannya 16 inchi dan warna silver. Keduanya memiliki berat sekitar 8-10 kg. Dengan kisaran waktu sekitar 30 detik untuk proses melipatnya. Cukup menarik sebenarnya….
Tapi sebelum memutuskan membeli seli merk Polygon, saya masih survey ke beberapa tempat juga. Seperti Roda Link Arteri Pondok Indah, One Bike Bintaro, Roda Link Bintaro, dan Manggarai. Ternyata, di Manggarai dan One Bike, saya mendapat lebih banyak pilihan. Kalau di One Bike Bintaro, lebih banyak pilihan, karena toko ini lebih mengkhususkan menjual seli. Jadi cukup banyak jenis seli yg dijual di toko ini. Tentunya dengan harga yg beragam pula. Lalu di Manggarai juga banyak pilihan. Ada juga yg merk United. Ternyata yg merk United ini juga banyak varian-variannya. Kisaran harganya lebih praktis lebih murah dari Polygon, apalagi dari merk Dahon…..
Setelah keluar masuk toko-toko di Manggarai yg berderet panjang banget itu, dan setelah menawar dengan sebengis-bengisnya, saya memutuskan membeli 2 buah seli, keduanya merk United, yg pasti lebih ekonomis. Yang pertama yaitu United Vector warna hitam dan kedua United Quest warna emas. Yang United Vector, setelah keluar masuk toko-t0ko dan melalui tawar menawar yg lumayan alot, saya dapatkan dengan harga Rp 1.100.000 (di dealer resmi United di Slipi harganya Rp 1.300.000 diskon 10%… lumayan selisihnya khan….?!?!). Terus yang kedua United Quest, dengan tongkrongan seperti sepeda jenis BMX saya dapatkan dengan harga Rp 1.400.000 (di United Slipi harganya Rp1.800.000…!!!! saya tahu harga ini setelah men-chek lewat telepon ).
Jadilah saya membawa pulang sepeda lipat United 2 buah… lumayan, tersalurkan hasrat maen sepeda lipat… eh, tapi sampai rumah, yg Quest malah dipakai Oki terus… terus yg Vector malah disenengin sama Ely.. ya udah, saya pakai sepeda yg lama deh terpaksa kalo mau nggowes barengan…….



Seli United Quest ( paling atas, warna emas). Tengah Seli United Vector dan yang sudah dilipat
Taman Kota-ku
12 Feb 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Panorama
Kamis (29/1/2009), pulang kerja, seperti biasa, jemput Ely ke kantornya di Bank Lippo Panglima Polim, ngga jauh dari Blok M ke arah Cipete. Pas di jalan, Ely sms kalau dia pulangnya agak telat sedikit, sekitar setengah 7-an gitu… sekarang baru jam 5 sore. Nah, masih banyak waktu, ke mana dulu ya…? Pas ngelewatin Pasar Barito, tepat di bekas pasar ikan, ternyata sudah dibuka dari seng-seng yang nutupin daerah itu. Kawasan pasar ikan Barito setelah penggusuran memang ditutup alias dikelilingi seng-seng oleh pemda. Seng-seng itu sekarang sudah dilepas. Dan ternyata sekarang sudah menjadi taman… lumayan rapi tuh…
Nama taman itu taman Ayodya. Dikelilingi oleh rerumputan, plus pohon-pohon besar serta tempat untuk duduk-duduk . Ditengahnya ada kolam yang cukup besar. Lumayanlah untuk duduk-duduk misalnya sambil baca koran sore… dan yang paling penting, kawasan itu jadi lebih tertata rapi… memang sih ada yg mesti dikorbanin, yaitu “sawahnya” para pedagang ikan di situ yang sekarang hilang menjadi taman.
Tapi terus terang, ini termasuk langkah pemda yg perlu kita dukung. Karena dari belasan kerjaan pemda, biasanya pada ngga beres…!! Contoh aja, transportasi kota yg masih amburadul kalo ngga mau dibilang parah banget..! terus jalan rusak, yg terjadi atau muncul setiap selesai musim hujan… ditambah lagi banjir yg hampir setiap musim hujan juga muncul… dan masih banyak deretan PR pemda yg bikin kita sebel kalo mikirinnya….ampun deh…!
Pembangunan taman-taman seperti ini tampaknya terkait dengan keinginan Walikota Jakarta Selatan untuk mengikuti perlombaan meraih Piala Adipura, yaitu piala yg penilaiannya berdasarkan kebersihan suatu kota. Ya, terserah deh sama walikota, yg penting kebijakannya bikin masyarakat senang aja… Jadi di sekitaran situ ada 3 taman yg lumayan besar, yaitu Taman Ayodya, taman Langsat, dan Taman Puring… lumayan khan buat ngajak keluarga jalan olahraga. Dari ketiga taman di atas, yg paling besar, rapi dan sering jadi area shooting film atau pemotretan adalah taman Langsat, yang berada tepat di belakang Pasar Burung Barito. Di taman ini ada trek yg melintasi sekeliling taman dengan panjang sekitar 700 meter. Trek ini biasa digunakan orang untuk jogging ataupun naik sepeda….



Taman Langsat ( foto paling atas). Taman Barito (dulu tempat pedagang ikan hias) sekarang menjadi taman yg asyik buat duduk-duduk menikmati udara sore hari.























Komentar Terakhir